Move On

Malam yang lucu karena ungkapan teman saya setelah ku ceritakan sedikit masalah yang saya hadapi.

Aku tau, itu iterasimu

Haha, iterasi.. Lucu sekaligus menyedihkan menurut saya. Ya, kenapa saya terus dalam putaran ajaib tanpa ujung seperti ini? Seperti terjebak dalam segitiga bermuda dan tidak bisa keluar darinya. Atau seperti dalam lingkaran yang terus berputar namun saya belum juga terlontar. Sampai kapan terus dalam putaran ini? Iterasi saja ada kalanya berhenti mengapa saya tidak bisa berhenti?

Move on itu mudah kok, setidaknya harus seperti ini lah yang harus kita pikir. Move on itu mudah!

Bagi #TipeDarah AB, move on itu mudah. Since they are tough with themselves and people close to them

Oke, jika memang saya pernah mengalami hal yang sama, tentunya saya haru bisa untuk lebih baik lagi saat ini. Orang yang telah belajar tentu harus bisa mengerjakan dengan lebih baik soal yang diberikan bukan? Apalagi soal tersebut sudah pernah diberikan? So, saya pun harus bisa melalui ini lebih baik daripada dulu.

Fokus! Intinya saya harus bisa fokus terhadap apa yang ada dihadapan, masa depan, bukan terpaku terhadap masa lalu yang hanya membuat galau. Yaps, tidak perlu menjadikan masa lalu sebagai tempat untuk istirahat lama, apalagi sampai tinggal. Masa lalu hanya sebagai “spion” agar kita lebih hati-hati untuk menjalani masa sekarang dan masa depan. Fokus, dengan target yang telah dibuat. Apa? Belum punya target untuk kedepan? 2012 gitu… buat target sekarang juga paling tidak untuk satu tahun kedepan.

Jangan ungkit masa lalu jika masih belum bisa untuk benar-benar lepas dari masa lalu itu. Biar masa lalu itu menjadi masa lalu, tak perlu diungkit walau ingin sekali mengungkit. Buat apa juga sih ya mengungkit masa lalu jika akhirnya berujung duka?

Jika bersedih, masih ada teman kok yang bisa diajak berbagi. Masih ada teman yang bisa diajak bercanda dan sedikit melupakan masalah yang terjadi. Kalaupun tak ada teman, masih ada keluarga, masih ada Allah yang kan terus ada. Perlu diingat kata Aa’ Gym,

Ada kalanya kita harus berani dengan stop melankolis mementingkan perasaan diri sendiri, hidup bukan hanya untuk perasaan diri…

Move On

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s