Sisir dan Jam Tangan

Menyesuaikan diri dengan suatu yang baru tentunya hal yang biasa terjadi, terutama dalam suatu kelompok atau organisasi. Hal serupa saya alami [lagi] di tahun ini, adanya anggota baru di KSC. Tentunya yang namanya salah paham atau ‘missed understanding’ kemungkinan besar pasti terjadi, seperti yang pernah disampaikan oleh kakak kelas saya saat SMA dulu, sebuh kisah tentang Sisir dan Jam Tangan. Kurang lebih ceritanya seperti ini (maklum, hanya mengandalkan ingatan)

Ada sepasang suami istri yang hidup pas-pas-an namun saling mencintai. Hari itu adalah hari jadi pernikahan mereka. Sang istri yang sangat mencintai suaminya ingin sekali memberikan hadiah yang sangat disukai oleh suaminya. Kemudian sang istri berpikiran untuk membelikan sebuah jam tangan emas yang bagus untuk suaminya itu.Tak kalah cinta sang suami, dia pun juga berpikiran untuk membelikan sisir yang sangat bagus untuk istrinya yang memiliki rambut yang sangat indah. Namun, mereka sama sekali tidak mengatakan niat mereka satu sama lain.

Untuk merealisasikan angan2 tersebut, mereka harus berpikir keras agar mendapatkan uang yang cukup untuk membeli barang2 itu. Sang istri memutuskan untuk memotong seluruh rambutnya dan menjualnya agar dapat membeli jam tangan tersebut. Sedangkan sang suami kehilangan tangannya untuk dapat membeli sisir untuk sang istri tercinta (maaf bagian ini saya lupa mengapa tangan sang suami bisa sampai dipotong).

Saat mereka kembali ke rumah dan bertemu, sang suami memberikan sisir tersebut kepada sang istri, namun sayang sisir itu sama sekali tidak berguna karena sang istri tidak lagi mempunyai rambut sehelaipun. Sang istri juga tidak bisa memakaikan jam tangan yang telah didapatkannya itu ke tangan sang suami, karena sang suami tidak lagi mempunyai tangan untuk memakainya.

Dalam suatu organisasi atau dalam suatu kelompok sangat penting adanya komunikasi. Tanpa adanya komunikasi yang baik akan terjadi banyak kesalah pahaman yang akhirnya hanya membuat kelompok itu tidak berjalan sesuai dengan harapan awal. Sama seperti kisah di atas, tidak adanya komunikasi diantara mereka membuat usaha yang mereka lakukan dengan sangat keras menjadi sia – sia belaka.

Sebaik apapun niat seseorang, namun jika niat tersebut tidak dapat tersampaikan dengan baik akan menjadi hal yang sia-sia atau mungkin dapat merugikan. Seperti kata-kata yang pernah saya dengar

Sebaik apapun niat seseorang, tidak semua niat baik tersebut dapat tersampaikan kepada orang lain seperti yang kita harapkan. Karena tidak semua niatan yang kita anggap baik, baik juga untuk orang lain.

Semoga kita bisa belajar berkomunikasi yang baik, sehingga apa yang kita lakukan tidak akan sia-sia atau bahkan merugikan baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.đŸ™‚

Sisir dan Jam Tangan

4 thoughts on “Sisir dan Jam Tangan

    1. iya bener..
      wah sepertinya putri ada semacam pengalam tentang hal ini nih?
      segala sesuatu klo g dikomunikasikan dengan baik belum tentu hasilnya baik
      kadang hal yang baik karena penyampaian yang kurang baik malah jadi hal yang tidak baik.. hohohoho…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s