Is He The Right One? – part 1

Jangan salah sangka dulu.. sekedar informasi, saya belum menikah.. tapi bukan berarti tidak boleh membaca buku ini donk? Buku ini tidak hanya untuk yang telah menikah, yang belum menikah pun boleh membaca buku ini, karena di dalam buku ini ada bahasan tentang Memilih Suami Pilihan. Siapa sih yang gak ingin memiliki suami pilihan? tentu semua wanita menginginkannya. Saya jadi ingat pesan seorang teman, “jangan asal, jangan salah pilih”. Ya, karena kita akan hidup bersamanya bukan hanya sekedar untuk satu atau dua tahun tapi seumur hidup.😉 so, is he the right one?

Oke.. langsung saja saya akan sedikit membagikan salah satu bahasan dari buku Muhasabah Cinta Seorang Istri karya Asma Nadia, dkk. Seperti yang saya bilang sebelumnya, ini tentang bahasan Memilih Suami Pilihan, ini merupakan tips untuk mengenali karakter calon suami dan kecendurangan – kecenderungan yang tidak baik

Oh ya, sebelumnya saya ingin memberi tahu.. karena ini lumayan panjang.. ada 12 point saya akan membagi menjadi 2 (maklum, saya sedang banyak tugas… :p) jadi yang 6 point selanjutnya bersambung… oke?😉 Let’s check it out, apa aja 6 point pertama… (green)

1. Si Dia Egois?

Lihat apakah dia melulu menceritakan dirinya, kehebatan2nya, prestasi2nya, atau apa yang telah dia lakukan dalam obrolan setiap bertemu.

Jadi sangat ngobrol dengannya perhatikan apa yang dibicarakannya hanya dia dia dia saja dan tidak memberikan kesempatan untuk kita bicara, semua tentang dia. wew…

2. Si Dia Peduli atau Cuek?

Kamu bisa melihat seberapa peduli si dia dari caranya menanyakan kabarmu, dan apakah dia sungguh – sungguh bertanya atau sekedar basa – basi bisa dikenali dari seberapa dia menaruh perhatian pada jawabanmu. Ceritamu tentang ayahmu yang sakit, atau ibumu yang belakangan kurang sehat, atau kecelakaan yang menewaskan kucingmu. Atau masalah yang sedang kamu hadapi di kampus atau tempat kerja.

Perhatikan caranya mendengarkan keluh kesahmu, seberapa dia sabar hingga kamu menyelesaikan ceritamu, sebelum kembali mengobrolkan dunianya, bisa menjadi nilai tersendiri di matamu.

3. Si Dia Cerdas Sosial?

Back to point dua, nilai kemampuannya berempati dari kisah sedih yang kamu sampaikan. Apakah dia berkata, “Saya bisa membayangkan sulitnya kondisi keluarga sejak ayah meninggal, tapi Alhamdulillah masih ada ibu. Kamu harus menjaga ibu lebih baik sekarang”.

Atau, “Kasihan. Tapi temanku malah hidupnya lebih sulit lho.. ibu bapaknya tewas dalam kecelakaan sekaligus.”

Or…. “Sudahlah, jangan cengeng. Nabi Adam malah ke bumi nggak punya siapa-siapa!”

Meski intinya sama, tapi tiga komponen di atas pasti terasa beda kan?

4. Si Dia Strategis atau Sistematis?

Kecerdasan dan pola pikirnya busa kamu jajaki selain dari prestasi belajarnya, atau di kantor, juga dari kualitas saran2 yang dilemparkan kepadamu. Seberapa strategis atau sistematis pola pikirnya atau sebaliknya seberapa EGP (emang gue pikirin) dia, bisa kamu lihat dari caranya merunut permasalahan dan mencari jawaban. Apakah saran2nya standar :

Well, kamu harus lebih hati2 kalau begitu!

Atau, Lain kali file harus kamu back up tersendiri, supaya tidak hilang. Mungkin dengan hard disk external atau USB khusus untuk file2 penting. Kamu juga bisa mengirimkan tulisan dan data penting ke alamat emailmu sendiri, misalnya.

Or dengan santainya,Data hilang aja sedih. Bikin lagi aja! Sekarang… jalan yuk?

5. Si Dia Suka Kekerasan?

Tanya posisinya ketika ospek di sekolah dulu. Apakah dia pro perpeloncoan? Apakah dia menjabat sebagai seksi keamanan? Apakah dia menikmati saat mengerjai lahir atau batin siswa – siswa baru? Apakah caranya mengerjain mereka cukup edukatif, atau cenderung merendahkan dan menyakiti? Apakah dia anti perpeloncoan?

Perhatikan juga di rumah bagaimana sikapnya terhadap adik, apakah mudah marah dan main tangan? Apakah pernah memukuli adik atau kakaknya yang perempuan? Bagaimana sikapnya terhadap pembantu? Apakah dia enjoy menyiksa binatang?

Memang ada kasus kekerasan yang dipicu obat2an, minuman keras, atau stress, dan ini seringkali tidak terduga. Artinya, bahkan orang yang sebelumnya sangat baik bisa berubah beringas dan kasar. Tetapi dalam kondisi normal, sebenarnya kencenderungan kekerasan bisa kita deteksi lebih dini.

6. Si Dia Pesolek atau Gengsian?

Cek, apakah si dia brand minded, peduli dengan merek baju dan sepatunya, atau barang2 yang dikenakannya. Amati usulan2 tempat untuk bertemu, apakah dia keberatan makan di warteg pinggir jalan yang kecil tapi bersih? Jika memiliki adik atau kakak dengan kondisi khusus, apakah dia bangga dengan mereka dan sayang atau terkesan tidak mau terkaitkan?

Satu lagi, cara memilih ponsel juga bisa menjadi penilaianmu, baik warna, harga, dan tren. Misalnya jika posel pilihannya lebih mengutamakan model ketimbang fungsi. Atau jika dia terbilang sering gonta-ganti HP setiap kali ada model baru.. hati – hati berarti si dia memiliki kecenderungan konsumerisme.

Lihat juga temen2 dekatnya dan model mereka. Kamu bisa mengetahui karakter seseorang dari caranya memilih teman. Kamu juga bisa melihat seberapa dia siap membantu ketika mengerjakan sesuatu yang kurang  bersih, misalnya merapikan kebun, membersihkan halaman atau bahkan got di depan rumah.

Dengan ada sedikit tambahan dan pengurangan.. semoga tidak merubah arti dan maksud penulis..🙂

souce :
Nadia, Asma, 2009, Muhasabah Cinta Seorang Istri, Lingkar Pena, Jakarta.

1. Si Dia Egois?

Lihat apakah dia melulu menceritakan dirinya, kehebatan2nya, prestasi2nya, atau apa yang telah dia lakukan dalam obrolan setiap bertemu.

Jadi sangat ngobrol dengannya perhatikan apa yang dibicarakannya hanya dia dia dia saja dan tidak memberikan kesempatan untuk kita bicara, semua tentang dia. wew…

2. Si Dia Peduli atau Cuek?

Kamu bisa melihat seberapa peduli si dia dari caranya menanyakan kabarmu, dan apakah dia sungguh – sungguh bertanya atau sekedar basa – basi bisa dikenali dari seberapa dia menaruh perhatian pada jawabanmu. Ceritamu tentang ayahmu yang sakit, atau ibumu yang belakangan kurang sehat, atau kecelakaan yang menewaskan kucingmu. Atau masalah yang sedang kamu hadapi di kampus atau tempat kerja.

Perhatikan caranya mendengarkan keluh kesahmu, seberapa dia sabar hingga kamu menyelesaikan ceritamu, sebelum kembali mengobrolkan dunianya, bisa menjadi nilai tersendiri di matamu.

3. Si Dia Cerdas Sosial?

Back to point dua, nilai kemampuannya berempati dari kisah sedih yang kamu sampaikan. Apakah dia berkata, “Saya bisa membayangkan sulitnya kondisi keluarga sejak ayah meninggal, tapi Alhamdulillah masih ada ibu. Kamu harus menjaga ibu lebih baik sekarang”.

Atau, “Kasihan. Tapi temanku malah hidupnya lebih sulit lho.. ibu bapaknya tewas dalam kecelakaan sekaligus.”

Or…. “Sudahlah, jangan cengeng. Nabi Adam malah ke bumi nggak punya siapa-siapa!”

Meski intinya sama, tapi tiga komponen di atas pasti terasa beda kan?

4. Si Dia Strategis atau Sistematis?

Kecerdasan dan pola pikirnya busa kamu jajaki selain dari prestasi belajarnya, atau di kantor, juga dari kualitas saran2 yang dilemparkan kepadamu. Seberapa strategis atau sistematis pola pikirnya atau sebaliknya seberapa EGP (emang gue pikirin) dia, bisa kamu lihat dari caranya merunut permasalahan dan mencari jawaban. Apakah saran2nya standar :

Well, kamu harus lebih hati2 kalau begitu!

Atau, “Lain kali file harus kamu back up tersendiri, supaya tidak hilang. Mungkin dengan hard disk external atau USB khusus untuk file2 penting. Kamu juga bisa mengirimkan tulisan dan data penting ke alamat emailmu sendiri, misalnya.

Or dengan santainya, “Data hilang aja sedih. Bikin lagi aja! Sekarang… jalan yuk?

5. Si Dia Suka Kekerasan?

Tanya posisinya ketika ospek di sekolah dulu. Apakah dia pro perpeloncoan? Apakah dia menjabat sebagai seksi keamanan? Apakah dia menikmati saat mengerjai lahir atau batin siswa – siswa baru? Apakah caranya mengerjain mereka cukup edukatif, atau cenderung merendahkan dan menyakiti? Apakah dia anti perpeloncoan?

Perhatikan juga di rumah bagaimana sikapnya terhadap adik, apakah mudah marah dan main tangan? Apakah pernah memukuli adik atau kakaknya yang perempuan? Bagaimana sikapnya terhadap pembantu? Apakah dia enjoy menyiksa binatang?

Memang ada kasus kekerasan yang dipicu obat2an, minuman keras, atau stress, dan ini seringkali tidak terduga. Artinya, bahkan orang yang sebelumnya sangat baik bisa berubah beringas dan kasar. Tetapi dalam kondisi normal, sebenarnya kencenderungan kekerasan bisa kita deteksi lebih dini.

6. Si Dia Pesolek atau Gengsian?

Cek, apakah si dia brand minded, peduli dengan merek baju dan sepatunya, atau barang2 yang dikenakannya. Amati usulan2 tempat untuk bertemu, apakah dia keberatan makan di warteg pinggir jalan yang kecil tapi bersih? Jika memiliki adik atau kakak dengan kondisi khusus, apakah dia bangga dengan mereka dan sayang atau terkesan tidak mau terkaitkan?

Satu lagi, cara memilih ponsel juga bisa menjadi penilaianmu, baik warna, harga, dan tren. Misalnya jika posel pilihannya lebih mengutamakan model ketimbang fungsi. Atau jika dia terbilang sering gonta-ganti HP setiap kali ada model baru.. hati – hati berarti si dia memiliki kecenderungan konsumerisme.

Lihat juga temen2 dekatnya dan model mereka. Kamu bisa mengetahui karakter seseorang dari caranya memilih teman. Kamu juga bisa melihat seberapa dia siap membantu ketika mengerjakan sesuatu yang kurang  bersih, misalnya merapikan kebun, membersihkan halaman atau bahkan got di depan rumah.

Is He The Right One? – part 1

4 thoughts on “Is He The Right One? – part 1

    1. iefa says:

      hahaha.. ya kira2 sendiri yang mana… (thinking)
      itu masih ada 6 lagi lho.. (evilsmirk)

      thanks dah komen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s