Nanny 911

Pernah lihat tayangan yang bejudul Nanny 911 di salah satu tv swasta? Beberapa waktu yang lalu secara tak sengaja saya melihat suatu acara reality shownya amerika di salah satu televisi swasta. Nanny = pengasuh, sedangkan 911 = identik dengan kepolisian. Sesuai dengan judulnya (ya iyalah…) acara ini tentang bagaimana seorang nanny menyelesaikan suatu permasalah dalam sebuah keluarga yang “bermasalah” dalam mengasuh anaknya. Hanya seorang nany saja yang ditugaskan untuk menyelesaikan “masalah” dan hanya diberikan waktu selama satu minggu.
Episode yang saya lihat saat itu adalah ketika nany menangani keluarga yang meiliki 6 orang anak yang masih balita semuanya (ck..ck… betapa ramainya rumah tersebut..). Anak- anak mereka terdiri dari satu orang anak laki-laki yang baru masuk sekolah (mungkin tk), dua anak kembar dan 3 anak kembar, jadi jumlahnya 6 kan?? Jarak mereka sangat dekat, mungkin sekitar 1-2 tahun (maklum, waktu lihat sesi perkenalan g ngehafalin, cuma lihat sekilas). Orang tua berprofesi di kepolisian, sang ibu polisi dan sang ayah seorang detektif (keluarga polisi).

Permasalahan dari keluarga ini adalah sang ibu merasa tertekan dengan keadaan yang memiliki banyak anak seperti itu, dan dia sering sekali melontarkan kata-kata kasar yang sebenarnya memang tak pantas tuk diucapkan apalagi dihadapan anak kecil.
“Dia mengasuh anaknya seperti hanya menghadapi seorang penjahat” kata nanny ketika melihat cara sang ibu mengasuh anaknya. Membentak, menyuruh dengan berteriak, dan terkadang melontarkan kata-kata kasar. “Saya heran, kenapa ibu ini tidak memakai seragam” tamabahnya. Dia mengatakan demikian karena sang ibu yang berlaku layaknya polisi di rumah.

“Selama ini dia tidak pernah mengatakan kata-kata kasar atau kotor, hanya semenjak dia menghadapi anak-anak dia mulai mengatakan kata-kata demikian” tutur sang suami mengenai kebiasaan baru istrinya.
Setelah mengamati perilaku keluarga itu sehari, esoknya nanny memberikan peraturan kepada keluarga tersebut, dan yang melanggar akan mendapatkan sangsi. Satu hal yang sulit untuk dirubah dalam keluarga itu, yaitu sikap sang ibu kepada anak-anaknya. Sangat sulit bagi sang ibu untuk tidak mengeluarkan kata-kata kasar ketika anak-anaknya mulai membuat keributan atau mulai mencari perhatian orangtuanya. Beberapa hari tak berjalan dengan baik sesuai dengan keinginan nanny. Akhirnya nanny memutuskan untuk berbicara berdua dengan sang ibu. Nanny menjelaskan jika dia ingin berubah untuk anak-anaknya maka dia harus menuruti kata-katanya, sang ibu harus bisa mengungkapkan cintanya kepada anak-anaknya. “Ingat saat kita bermain peluk-pelukan bersama anak-anak? Saat anak-anak ingin memelukmu kamu malah langsung menampik mereka. Kamu harus bisa mengungkapkan kasih sayangmu pada mereka” ungkap nanny. Mulanya sang ibu sedikit ngeyel namun akhirnya dia menuruti karena mengingat anak-anaknya. Dan keluarga tersebut dapat lebih terkendali, sang ibu pun tak lagi mengeluarkan kata-kata kasar di depan anak-anaknya dan dia pun lebih memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya.
Sangat menakjubkan, anak-anak seperti mendapat yang mereka inginkan saat melihat ibunya lebih bersabar dan lebih sayang kepada mereka, tidak lagi mereka membuat keributan atau menangis serta berteriak (berteriak ini karena mereka mencontoh orangtua mereka yang terkadang saling berteriak, bahkan salah seorang anaknya ada yang menirukan kata-kata kasar ibunya… ck..ck…).
Menurut saya, kita dapat mengambil pelajaran dari kejadian yang dialami oleh ibu itu. Yah.. mungkin ada dari anda menganggap saya sok tau (namanya saja menurut saya, klo ada yang salah ya mohon maaf…. Ok? Sukur2 diperbaiki).
Bila kita lihat tadi, salah seorang anak menirukan kata-kata kasar ibunya, seperti yang kita ketahui bahwa anak-anak seumur mereka selalu menirukan tingkah laku serta tutur kata orang-orang disekitarnya, dan tentu saja yang paling berperan besar adalah orang yang sering bersama mereka (ibu mereka atau kedua orangtua mereka –keluarga mereka). Apapun yang dilakukan dapat saja dicontoh oleh mereka, dan apa yang terjadi jika yang mereka contoh adalah suatu yang tidak baik dari kita.
Menurut saya, suatu tindakan sehari-hari kita merupakan bentukan dari sebuah kebiasaan, bila kita terbiasa berkata kasar, maka kita pun akan susah untuk lepas dari hal itu. Tidak hanya berkata kasar saja, bisa juga tindakan yang lain.
Labih bisa mengungkapkan rasa sayang kita terhadap mereka (adek, keponakan, dll yang masih kecil itu), misalnya saja menciumnya, memeluknya, menggendngnya, dll. Hal ini akan lebih bisa mengakrabkan kita dengan mereka, dan mereka pun akan nyaman bersama kita.
Jangan membentak atau berteriak kepada anak kecil, karena ketika melakukan hal itu bukannya mereka diam malah bertambah histeris . Yah, biasanya anak kecil tu klo dilarang malah diakukan, repot kan… ck… tapi mereka lucu.. .

eh, tapiklo ini tu gambar bayi ya… hehehee….. lucu2 kan???

Bicara saja yang halus, friendly githu… tapi jangan bicara dengan menggunakan bahasa ilmiah ya, mereka kan belum ngerti, masa bicara ma anak kecil pke kosa kata seperti implikasi, implementasi, intergral, kalkulus (lho?? Malah ra nyambung )
Biasanya anak kecil klo lagi rebut atau nangis itu minta perhatian lebih (selain minta minum, makan, ganti popok, mau pup, dll) hal ini juga terjadi pada kisah diatas saat anaknya yang paling besar tidak diikut sertakan dalam suatu kegiatan, tiba2 saja dia menangis, tujuannya tentu saja agar dapat perhatian orangtuanya.
Hm… saya rasa demikian, hehehheehee…………….
Jadi misalnya kita mendapatkan tugas untuk menjaga anak kecil, adek kita, keponakan kita, atau apalah terserah, setidaknya kita sedikit tau apa yang kita mesti lakukan.
Jika mengalami kesulitan telp 911, tapi yang datang bukan Nanny lho… tapi ya POLISI, hehheee ^_^V (peace)

Nanny 911

8 thoughts on “Nanny 911

  1. Aq yo pas nonton pas episod kuwi. Jan stres tenan ibuk bapake kae. Tapi nanny-ne yo tok cer tenan je.

    btw….wis pengin nduwe anak yo fa😀

    “klo pengen sih yo jelas lah…. perempuan mana yang g pinngin punya anak??
    tapi ya g saat ini atau untuk waktu dekat ini lah,, nikah aja blm… ^_^”

  2. halo mbak ifa….blognya bagus da manis loh….! Semoga sukses ya mbak!

    ^_^ waaah,, terimakasih…. blognya dek Wiku juga keren,,, YUpz,,, maksih yach…

  3. @ noe
    hohohoooo… boleh juga… semoga bosnya baca (kira2 bisa baca tulisan bahasa Indonesia g ya??? )
    asalkan bosnya g bilang “saya punya anak buah, mengapa mesti saya yang turun tangan? jika anak buah saya bisa melakukannya”

    hehe ^_^V

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s